Search This Blog

Beranda

Sunday, 24 April 2016

Kondisi Masyarakat Arab Sebelum datangnya Islam

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad n, Mayoritas masyarakat Arab sejatinya masih mengikuti dakwah Nabi Ismail q, yaitu agama yang dianut oleh ayahnya, Ibrahim q. Mereka hanya beribadah kepada Allah I dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Syiar dakwah Tauhid yang dikembangkan oleh Ibrahim masih menancap kuat di tanah Arab. Seiring berkembangnya zaman, masyarakat Arab mulai meninggalkan ajaran Tauhid sedikit demi sedikit.[1] Hal ini diperparah dengan munculnya sosok 'Amr bin Luhay, seorang pemimpin Bani Khuza'ah yang meletakkan berhala pertama kali di Baitullah Ka'bah. Setelah itulah masyarakat Arab mulai melakukan praktek kesyirikan dengan menyembah berhala-berhala.[2]
Di sisi lain, ada juga sebagian masyarakat Arab yang menganut agama Yahudi, Nasrani, Majusi, dan Shabi`ah. Agama-agama tersebut merupakan agama yang sempat eksis di tanah Arab. Kondisi semua agama tersebut tak jauh beda dengan kondisi orang-orang musyrik penyembah berhala.[3]
Dari segi sosial, kondisi masyarakat Arab saat itu dipenuhi dengan pelacuran, pergaulan bebas, pembunuhan, dan perbuatan-perbuatan keji lainnya. Di antara mereka ada yang gemar mengubur hidup-hidup anak perempuannya karena takut menanggung malu atau takut menjadi miskin dan melarat. Kehidupan mereka diperburuk dengan adanya budaya fanatisme suku yang sangat kental. Perseteruan dan persaingan seringkali menjadi penyebab utama terjadinya perang antar suku yang masih memiliki kekerabatan, seperti suku Aus dan Khazraj.[4]
Meskipun kehidupan mereka dipenuhi dengan kenistaan dan kehinaan, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka masih memiliki akhlak-akhlak mulia seperti memuliakan tamu, senantiasa menepati janji, gemar membantu orang-orang fakir miskin, dan lainnya.[5]


[1] Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, al-Rahiq al-Makhtum (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah,2007), 21.
[2] Muhammad bin 'Abd al-Wahhab, Mukhtashar Sirah al-Rasul (Kairo: Maktabah Ibn Taimiyah,2010), 12.
[3] Sulayman al-Nadawi, Tarikh Ardh al-Qur`an (Damaskus: Dar al-Qalam,2001), 193.
[4] Shafiyyurrahman, al-Rahiq, 27-28.
[5] Ibid., 29-30.

No comments:

Post a Comment