Sebelum diutusnya Nabi Muhammad n, Mayoritas
masyarakat Arab sejatinya masih mengikuti dakwah Nabi Ismail q, yaitu agama
yang dianut oleh ayahnya, Ibrahim q. Mereka hanya beribadah kepada Allah I dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Syiar dakwah Tauhid yang dikembangkan oleh Ibrahim masih menancap
kuat di tanah Arab. Seiring berkembangnya zaman, masyarakat Arab mulai
meninggalkan ajaran Tauhid sedikit demi sedikit.[1] Hal
ini diperparah dengan munculnya sosok 'Amr bin Luhay, seorang pemimpin Bani
Khuza'ah yang meletakkan berhala pertama kali di Baitullah Ka'bah. Setelah
itulah masyarakat Arab mulai melakukan praktek kesyirikan dengan menyembah
berhala-berhala.[2]
Di sisi lain, ada
juga sebagian masyarakat Arab yang menganut agama Yahudi, Nasrani, Majusi, dan
Shabi`ah. Agama-agama tersebut merupakan agama yang sempat eksis di tanah Arab.
Kondisi semua agama tersebut tak jauh beda dengan kondisi orang-orang musyrik
penyembah berhala.[3]
Dari segi
sosial, kondisi masyarakat Arab saat itu dipenuhi dengan pelacuran, pergaulan
bebas, pembunuhan, dan perbuatan-perbuatan keji lainnya. Di antara mereka ada
yang gemar mengubur hidup-hidup anak perempuannya karena takut menanggung malu
atau takut menjadi miskin dan melarat. Kehidupan mereka diperburuk dengan
adanya budaya fanatisme suku yang sangat kental. Perseteruan dan persaingan
seringkali menjadi penyebab utama terjadinya perang antar suku yang masih
memiliki kekerabatan, seperti suku Aus dan Khazraj.[4]
Meskipun
kehidupan mereka dipenuhi dengan kenistaan dan kehinaan, tidak dapat dipungkiri
bahwa mereka masih memiliki akhlak-akhlak mulia seperti memuliakan tamu, senantiasa
menepati janji, gemar membantu orang-orang fakir miskin, dan lainnya.[5]
[1]
Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, al-Rahiq al-Makhtum (Beirut: Dar
al-Kutub al-Ilmiyah,2007), 21.
[2] Muhammad bin
'Abd al-Wahhab, Mukhtashar Sirah al-Rasul (Kairo: Maktabah Ibn
Taimiyah,2010), 12.
[3] Sulayman
al-Nadawi, Tarikh Ardh al-Qur`an (Damaskus: Dar al-Qalam,2001), 193.
[4]
Shafiyyurrahman, al-Rahiq, 27-28.
[5] Ibid., 29-30.
No comments:
Post a Comment